![]() |
Foto: Media HIMSPI |
Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam (HIMSPI) terus berkomitmen dalam mengembangkan tradisi akademik berbasis kajian sejarah lokal. Salah satu bentuk implementasi dari komitmen tersebut adalah melalui penyusunan kajian ilmiah oleh mahasiswa semester 6 dalam mata kuliah Sejarah dan Budaya Perkotaan.
Kelompok 2 dalam mata kuliah ini mengangkat tema “Arsitektur Situs Masjid Ki Buyut Trusmi sebagai Tempat Bersejarah di Cirebon”, yang berfokus pada kajian arsitektur, sejarah, serta makna simbolik dari salah satu situs kabuyutan penting di Cirebon, yaitu Situs Masjid Ki Buyut Trusmi.
Cirebon sebagai Ruang Sejarah dan Perkembangan Islam
Cirebon merupakan salah satu kota pelabuhan penting di pesisir utara Jawa Barat yang memiliki peran strategis dalam jalur perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Sejak abad ke-15 hingga ke-17, wilayah ini berkembang sebagai pusat peradaban Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan interaksi budaya.
Sebagai bagian dari bekas wilayah Kesultanan Cirebon, kota ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang mencerminkan proses akulturasi antara budaya lokal dan pengaruh luar. Salah satu situs yang memiliki nilai historis tinggi adalah Situs Ki Buyut Trusmi, yang hingga saat ini masih menjadi pusat aktivitas keagamaan, budaya, dan ziarah masyarakat.
Sejarah dan Asal-Usul Ki Buyut Trusmi
Situs Ki Buyut Trusmi merupakan kompleks bangunan bersejarah yang terletak di Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Nama “Trusmi” sendiri diyakini berasal dari tokoh pendiri wilayah tersebut, yakni Ki Buyut Trusmi, yang dalam tradisi masyarakat setempat dianggap sebagai leluhur sekaligus tokoh penyebar Islam di kawasan tersebut.
Istilah “buyut” dalam konteks budaya lokal merujuk pada sosok yang dituakan atau dihormati sebagai pendiri wilayah. Keberadaan situs ini tidak hanya berkaitan dengan sejarah Islam, tetapi juga mencerminkan jejak interaksi antara dua kebudayaan besar, yaitu tradisi Hindu-Buddha dari Kerajaan Pajajaran dan perkembangan Islam di Cirebon.
Kompleks ini juga dikenal sebagai salah satu dari ratusan situs kabuyutan di Kabupaten Cirebon, bahkan termasuk yang terbesar dan paling lengkap dari segi struktur arkeologisnya. Hingga saat ini, situs ini menjadi salah satu destinasi ziarah penting setelah makam tokoh besar di Cirebon.
Kondisi Fisik dan Tata Ruang Kompleks Situs
Secara geografis, kompleks Situs Ki Buyut Trusmi memiliki luas sekitar 8.000 meter persegi dengan tata ruang yang tersusun secara sistematis. Seluruh area dikelilingi oleh tembok bata merah yang menjadi ciri khas arsitektur bangunan masa Kesultanan Cirebon.
Tata ruang kompleks dibagi ke dalam beberapa zona utama, yaitu:
- Area masjid sebagai pusat ibadah
- Area makam sebagai ruang sakral utama
- Area peziarah sebagai ruang transisi sosial dan religius
Pembagian ruang ini tidak bersifat acak, melainkan mencerminkan konsep kosmologi tradisional yang membedakan antara ruang profan dan ruang sakral. Area makam yang terletak di bagian utara menjadi titik paling suci dalam kompleks ini, tempat dimakamkannya Ki Gede Trusmi dan Pangeran Trusmi.
Selain itu, terdapat berbagai elemen bangunan seperti gapura, kori agung, pendopo, serambi masjid, pawestren, serta sumur yang masing-masing memiliki fungsi dan makna tersendiri dalam struktur ruang situs.
Akulturasi Arsitektur: Jawa, Sunda, dan Islam
Salah satu aspek paling menarik dari Situs Masjid Ki Buyut Trusmi adalah bentuk arsitekturnya yang mencerminkan perpaduan berbagai budaya.
Pengaruh arsitektur Jawa terlihat jelas pada bentuk atap masjid yang menggunakan model tajug bertingkat (tumpang). Struktur ini tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga mengandung makna filosofis tentang tingkatan spiritual manusia.
Sementara itu, pengaruh arsitektur Sunda tampak pada kesederhanaan desain bangunan serta penggunaan material lokal yang selaras dengan lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan situs tetap mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Adapun unsur arsitektur Islam terlihat dari orientasi bangunan yang menghadap kiblat, keberadaan mihrab, serta fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah. Namun, Islam dalam konteks ini tidak hadir secara murni, melainkan beradaptasi dengan budaya lokal, sehingga menghasilkan bentuk arsitektur yang unik dan khas.
Makna Simbolik dalam Tata Ruang dan Bangunan
Selain memiliki fungsi fisik, setiap elemen dalam Situs Ki Buyut Trusmi juga mengandung makna simbolik yang mendalam.
Beberapa simbol penting antara lain:
- Gerbang candi bentar dan kori agung sebagai simbol transisi dari ruang duniawi menuju ruang sakral
- Atap bertingkat sebagai simbol hierarki spiritual
- Pintu rendah masjid yang melambangkan kerendahan hati saat memasuki tempat ibadah
- Saka guru (empat tiang utama) sebagai simbol keseimbangan dan pusat kosmos
- Sumur keramat sebagai simbol kesucian dan sumber kehidupan
Selain itu, tradisi lokal seperti Memayu Buyut Trusmi juga menjadi bagian dari simbolisme budaya yang masih hidup hingga saat ini. Tradisi ini mencerminkan nilai filosofis masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dinamika Perubahan dan Pelestarian
Berdasarkan hasil kajian, tidak semua bangunan yang ada di kompleks situs merupakan bangunan asli. Seiring berjalannya waktu, telah terjadi berbagai perubahan, seperti renovasi, penambahan bangunan, hingga penyesuaian fasilitas untuk kebutuhan peziarah.
Meskipun demikian, unsur utama arsitektur tradisional tetap dipertahankan. Hal ini menunjukkan adanya upaya pelestarian yang tetap menjaga identitas historis situs, sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Kesimpulan
Situs Masjid Ki Buyut Trusmi merupakan representasi penting dari warisan sejarah dan budaya Islam di Cirebon. Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial, budaya, dan spiritual masyarakat.
Melalui kajian ini, mahasiswa Sejarah Peradaban Islam semester 6 berhasil menunjukkan bahwa arsitektur bukan hanya persoalan bentuk fisik, tetapi juga merupakan refleksi dari nilai-nilai sejarah, budaya, dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat.
Kajian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dalam upaya pelestarian warisan budaya serta memperkaya khazanah keilmuan sejarah peradaban Islam di Indonesia.
Penulis: Shella Sabilla, Riska Nurrahmadani, Mohamad Akbar, Mukhamad Rafli Ferdiansya, Firdaus Alghifari
Editor: Abdilah Muhammad Said
