![]() |
| Foto: Media HIMSPI |
Himpunan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (HIMSPI) melaksanakan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Cirebon dalam rangka menjalin silaturahmi sekaligus membuka peluang kerja sama di berbagai bidang. Kunjungan ini disambut dengan hangat oleh pihak Dispusip yang menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam mendukung berbagai kegiatan HIMSPI, baik yang bersifat akademik maupun non-akademik.
Dalam pertemuan tersebut, Dispusip menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan mahasiswa, seperti seminar, podcast, serta pengembangan literasi digital. Selain itu, Dispusip juga siap membantu mahasiswa, khususnya anggota HIMSPI, dalam mengakses berbagai sumber keilmuan dan literatur yang relevan dengan bidang Sejarah Peradaban Islam.
![]() |
| Foto: Media HIMSPI |
Salah satu pembahasan penting dalam kunjungan ini adalah terkait digitalisasi naskah kuno sebagai upaya pelestarian warisan budaya. Naskah-naskah yang mulai mengalami kerusakan tetap dapat diselamatkan melalui proses digitalisasi. Dispusip Kota Cirebon sendiri telah memiliki platform digital bernama “Singkono”, yang berfungsi sebagai media penyimpanan sekaligus akses naskah secara daring.
Dalam proses digitalisasi, diperlukan berbagai peralatan pendukung seperti kamera, penggaris untuk menjaga keseimbangan warna dan skala, kuas halus untuk membersihkan debu, serta alat bantu kecil untuk merapikan lipatan naskah. Selain itu, penggunaan masker dan sarung tangan sangat dianjurkan karena kondisi tangan manusia yang lembap dapat merusak naskah. Pencahayaan tambahan juga digunakan untuk memastikan hasil dokumentasi yang optimal.
Perlu diperhatikan bahwa aspek kebersihan dalam proses ini sangat penting. Jika diabaikan, dapat menimbulkan risiko kesehatan akibat paparan bakteri, jamur, dan debu yang telah menumpuk selama bertahun-tahun pada naskah. Hal ini sering kali dikaitkan secara mistis, namun secara ilmiah memiliki penjelasan yang jelas.
![]() |
| Foto: Media HIMSPI |
Digitalisasi juga menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi berbagai risiko bencana, seperti banjir dan kebakaran. Dengan adanya salinan digital, isi naskah tetap dapat diakses meskipun fisik aslinya mengalami kerusakan atau hilang.
Dalam kajian filologi, naskah yang rusak sekalipun tetap memiliki nilai penting. Para ahli dapat merekonstruksi isi naskah menggunakan metode analisis tertentu. Oleh karena itu, naskah yang tidak terbaca tidak serta-merta dibuang, melainkan tetap disimpan sebagai sumber informasi.
Dari segi penyimpanan, naskah kuno sebaiknya ditempatkan di ruang yang aman dengan sirkulasi udara yang baik, serta tidak disimpan dalam plastik. Selain itu, perlu dihindari dari benda-benda yang berpotensi merusak, seperti makanan dan minuman, guna mencegah kontaminasi.
Tahapan pengolahan naskah meliputi identifikasi, digitalisasi, katalogisasi, alih aksara, alih bahasa, hingga publikasi. Proses alih aksara dilakukan terlebih dahulu, yaitu mengubah tulisan dari aksara asli (misalnya huruf Pegon) ke dalam aksara Latin, sebelum kemudian diterjemahkan ke bahasa yang lebih umum.
![]() |
| Foto: Media HIMSPI |
Dalam kajian kodikologi, fokus utama terletak pada aspek fisik naskah, seperti bahan, ukuran, dan kondisi. Naskah kuno dipandang sebagai sumber informasi primer yang sangat berharga. Sementara itu, sigilografi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tanda atau segel, yang sering kali bersifat rahasia dan memiliki teknik pembacaan khusus. Selain itu, dikenal pula kertas daluang yang memiliki tekstur lebih tebal dibandingkan kertas Eropa maupun kertas modern, sehingga memiliki karakteristik tersendiri dalam kajian naskah kuno.
![]() |
| Foto: Media HIMSPI |
Melalui kunjungan ini, diharapkan terjalin sinergi yang berkelanjutan antara HIMSPI dan Dispusip Kota Cirebon dalam pengembangan literasi, pelestarian sejarah, serta penguatan keilmuan mahasiswa.
Penulis: Jihan Fadillah
Editor: Abdilah Muhamad Said



.jpeg)
.jpeg)