Sumber Foto Pinterest
SATU-SATUNYA DI DUNIA & ASIA
Pada masa kolonial Belanda, radio digunakan sebagai jembatan komunikasi antar wilayah, terutama dari Hindia Belanda ke Belanda. Salah satu stasiun radio terbesar pada masa itu berada di pengunungan Malabar Bandung Selatan dengan nama Stasiun Radio Malabar. Pada masa itu, stasiun ini menjadi salah satu stasiun radio terbesar dan paling canggih di Asia Tenggara juga menjadi yang pertama dan satu-satunya di dunia yang pada saat itu menggunakan sistem pemancar tanpa kabel (nirkabel).
CIKAL BAKAL STASIUN MALABAR
Stasiun radio Malabar dibangun sekitar tahun 1916-1923, dipimpin oleh insinyur Belanda bernama Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot dan diresmikan pada tanggal 05 Mei 1923 oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock. Dirancangnya stasiun ini adalah untuk komunikasi nirkabel lintas benua.
TEKNOLOGI & FUNGSI
Teknologi yang digunakan dalam stasiun ini yakni berupa lampu busur sebagai pemancar dan antena yang membentang 2 km dari Gunung Puntang ke Gunung Halimun. Berkat ini, komunikasi bisa dilakukan lebih cepat daripada menggunakan kabel bawah laut.
Tak hanya komunikasi, fungsi radio ini untuk menyebarkan informasi politik, sosial, juga militer Belanda. Selain itu, masyarakat umum di Belanda juga dapat berkomunikasi dengan keluarganya yang berada di Hindia Belanda.
MASA PENDUDUKAN JEPANG & BLA
Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, Jepang merebut Stasiun Radio Malabar dengan menggunakan stasiun ini sebagai pusat komunikasi militer selama Perang Dunia II. Di tahun 1946, Radio Malabar dihancurkan oleh para pejuang Indonesia dalam rangka Bandung Lautan Api dengan tujuan agar tidak digunakan kembali oleh Belanda saat agresi militer. Peristiwa ini pun menjadi tanda berakhirnya era kejayaan Stasiun Radio Malabar.
PENINGGALAN BERSEJARAH
Meski kini hanya menyisakan sebuah reruntuhan, tetapi Radio Malabar sudah menjadi salah satu bukti kemajuan teknologi pada masa kolonial. Kini, sisa bangunan tersebut telah menjadi sebuah objek tempat wisata yang bisa dikunjungi sebagai tempat edukasi sekaligus menjadi saksi bisu sejarah komunikasi nirkabel di Indonesia.
Penulis: Larasati Nurhasanah
Editor: Suci Parhah Fauziah
