Sumber Foto Pinterest
Simo Häyhä, dijuluki "White Death" (Kematian Putih), adalah penembak jitu paling mematikan dalam sejarah militer modern. la menjadi legenda selama Perang Musim Dingin (1939-1940) antara Finlandia dan Uni Soviet, dengan lebih dari 500 pembunuhan yang dikonfirmasi hanya dalam waktu sekitar 100 hari.
Selama Perang Musim Dingin, Häyhä mencatatkan setidaknya 505 pembunuhan yang dikonfirmasi menggunakan senapan runduk, menjadikannya penembak jitu paling mematikan dalam sejarah.
TANPA SCOPE
Beberapa sumber menyebutkan total pembunuhan mencapai 542, dan jika termasuk penggunaan senapan mesin ringan Suomi KP/-31, jumlahnya bisa mencapai sekitar 700 korban. Yang luar biasa, semua tembakan tersebut dilakukan tanpa teleskopik, hanya menggunakan bidikan besi. Häyhä menolak menggunakan teleskop karena khawatir pantulan cahaya dapat mengungkap posisinya. la juga menggunakan teknik seperti mengisi mulutnya dengan salju untuk menyamarkan uap napas dan memadatkan salju di depan laras senapan agar tidak terangkat saat menembak.
Häyhä bertempur di medan bersalju dengan suhu ekstrem hingga -40°C. la mengenakan pakaian kamuflase putih dan bersembunyi di lubang salju selama berjam-jam. Kemampuannya dalam menembak sangat akurat, dengan rata-rata lebih dari 5 pembunuhan per hari, dan rekor harian mencapai 25 pembunuhan.
NAIK PANGKAT
Setelah perang, Häyhä dianugerahi pangkat Letnan Dua oleh Marsekal Carl Gustaf Emil Mannerheim. la menghabiskan sisa hidupnya di Ruokolahti, dekat perbatasan Rusia, sebagai pemburu dan peternak anjing. Häyhä dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dantidak pernah membanggakan prestasinya. Dalam wawancara tahun 2001, ketika ditanya apakah ia menyesal telah membunuh begitu banyak orang, ia menjawab: "Saya hanya melakukan apa yang diperintahkan, sebaik mungkin. Tidak akan ada Finlandia jika semua orang tidak melakukan hal yang sama".
Pada 6 Maret 1940, Häyhä terkena peluru eksplosif di wajahnya, menyebabkan luka parah di rahang dan pipi kiri. la koma selama beberapa hari dan baru sadar pada 13 Maret 1940, bertepatan dengan hari ditandatanganinya perjanjian damai antara Finlandia dan Uni Soviet. Setelah 14 bulan perawatan dan 26 operasi, ia pulih meskipun dengan bekas luka permanen.
Penulis: Maulana Ramdhan
Editor: Suci Parhah Fauziah