JIRAH: Islam dan gerakan sosial di Indonesia Abad 18-20

Dokumentasi Lapangan

    Selasa malam rabu, tanggal 18 Maret 2025, Himpunan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam menghadiri kajian rutin bulanan yang diadakan oleh Komunitas Latar Wingking yang bertempat di Latar Wingking Jl. Ki Gede Mayaguna, Desa. Kaliwadas, Kec. Sumber, Kab. Cirebon. Yang dipantik oleh salah satu sejarawan Cirebon yakni Kang Farihin Niskala, S.hum, dan dibarengi oleh salah satu budayawan Cirebon yakni Kang Iful Azka Zulkifli. Tema yang diangkat cukup menarik yaitu Islam dan Gerakan Sosial di Indonesia Abad 18-20. Tema yang diangkat membuat kita flashback dengan peristiwa-peristiwa masa lalu terutama diabad 18-20 di Indonesia. “Dari gerakan aksi abad ke 18 ini menunjukan bahwa gerakan sosial selalu dipicu dengan motif-motif yang berbau tidak jauh dari persoalan politik, disamping itu bersangkutan dengan sentimen etnis juga” ucap kang Farihin.

    VOC atau bangsa kolonial kala itu menganggap bahwa etnis atau kelompok yang paling berkuasa, sehingga itu salah satu pemicu gerakan-gerakan di indonesia, sementara orang-orang kita yang mewarisi bahwa mereka lah yang mempunyai hak untuk mengklaim sumber daya indonesia sendiri, kemudian di abad ke-19 perlawanan-perlawanan rakyat pun semakin berkobar, efek dari abad ke-18 itu masih saling sambung menyambung salah satunya pecah perang santri sejak tahun 1802 itu karena tekanan yang diterima oleh orang-orang pribumi dari VOC dan etnis China waktu itu, yang kemudian para petani-petani di Cirebon mereka mengangkat senjata dan berani berperang terhadap VOC pada kala itu masih perintah Hindia. Pangeran Raja Kanoman yang tidak suka dengan VOC lebih memilih keluar dari istana dan memiliih berjuang dengan rakyat yang sebelumnya dipimpin oleh Mbah Muqoyim yang memilih mendirikan pesantren buntet, yang kemudian basis gerakan sosial sekaligus gerakan agama itu berpindah dari keraton ke pesantren yang kemudian menjadi basis gerakan sosial keagamaan, maka kyai-kayai kala itu memiliki kekuatan besar gerakan rakyat untuk melawan kolonial pada waktu itu.

    Akibat gerakan-gerakan rakyat pada saat itu menyebabkan timbulnya organisasi-organisasi gerakan islam, termasuk berdirinya NU, Muhammadiyyah, Persis, dan seterusnya. Itu semua disebabkan karena pengaruh kekuatan-kekuatan islam dengan solidaritas muslim didunia untuk melawan kolonial, hal inilah yang kemudia menjadi salah satu faktor kenapa  perlawanan gerakan sosial selalu identik dengan agama dalam hal ini adalam Islam sebagai pelopornya, inilah yang kemudian membuat kita berfikir bahwa islam bukan hanya tempat doktrin akidah dan syariat didalamnya, tapi jauh lebih dari itu bagaimana cara melakukan gerakan sosial untuk kesejahteraan umat dan kesejahteraan masyarakat.


Penulis: Raden M. Ikhsan F

editor: Suci Parhah Fauziah

   

 

Lebih baru Lebih lama