"BENARKAH SEJARAH INDONESIA PERLU DITULIS ULANG? UNTUK SIAPA DAN MENGAPA?"
Pertanyaan ini bukan sekedar teoritis. la lahir dari kegelisahan kolektif. Ketika seorang politisi seperti Fadli Zon melemparkan wacana penulisan ulang sejarah Indonesia, kita perlu mengangkat alis, bukan sekedar mengangguk. Sebab sejarah bukan Cuma kumpulan nama dan tanggal, tapi pijakan kita memandang masa lalu dan menentukan arah ke depan. Mungkin ini bentuk kontribusi barunya setelah vakum dari dunia puisi politik. Kali ini tampil sebagai kurator memori kolektif bangsa, meski dengan modal retorika politik, bukan metodologi historiografi.
Editorial The Jakarta Post (2025) juga menyoroti bahaya wacana "sejarah baru" yang dikembangkan negara. Minimnya transparansi, penghilangan tragedi, dan penguatan narasi tunggal disebut sebagai ancaman serius bagi kebenaran sejarah.
Dalam historiografi modern, sejarawan Leopold von Ranke menegaskan, sejarah harus ditulis as it actually happened, bukan as it should look good. Prinsip ini menuntut kejujuran dalam proses. Mulai dari pengumpulan sumber (heuristik), kritik terhadap sumber, sampai interpretasi yang objektif.Bukan sekadar pengumuman politik di media massa.
Jadi pertanyaannya, apakah sejarah baru ini akan memberikan ruang pada suara-suara yang selama ini dibungkam? Buruh, petani, kaum minoritas, perempuan, atau malah mempertegas posisi elite dalam narasi yang sudah lama timpang?
Kalau penulisan ulang sejarah hanya untuk memoles masa lalu yang otoriter, pelanggaran HAM, represi politik maka itu bukan koreksi, tapi kebohongan intelektual. Sejarah bukan kaca rias. la harus menjadi ruang refleksi, bahkan kalau itu menyakitkan.
Dan di sinilah posisi mahasiswa diuji. Kita bukan sekedar pembaca catatan masa lalu, tapi penjaga agar ingatan itu tetap waras. Kampus bukan tempat tidur panjang, tapi medan dialektika. Karena kalau kita diam, sejarah akan terus ditulis oleh mereka yang ingin dikenang baik-baik, bukan oleh mereka bangsa ini belajar dari kesalahan. Tulisan ini bukan yang pertama sebagai pengingat, dan mungkin bukan yang terakhir sebagai penentu. Tapi ia hadir sebagai riak kecil di tengah gelombang besar sebuah anomali di antara hegemoni. Karena sejarah akan selalu ditulis entah dengan tinta merah milik rezim, atau tinta emas dari perlawanan sipil terhadap para penindas.
Penulis: M. Ranskhi Alkhalish
Editor: Suci Parhah Fauziah
