WACANA SEJARAH BARU : ANTARA PROYEK ILMIAH ATAU POLITIK

Sumber Foto: Pinterest

"BENARKAH SEJARAH INDONESIA PERLU DITULIS ULANG? UNTUK SIAPA DAN MENGAPA?"

    Pertanyaan ini bukan sekedar teoritis. la lahir dari kegelisahan kolektif. Ketika seorang politisi seperti Fadli Zon melemparkan wacana penulisan ulang sejarah Indonesia, kita perlu mengangkat alis, bukan sekedar mengangguk. Sebab sejarah bukan Cuma kumpulan nama dan tanggal, tapi pijakan kita memandang masa lalu dan menentukan arah ke depan. Mungkin ini bentuk kontribusi barunya setelah vakum dari dunia puisi politik. Kali ini tampil sebagai kurator memori kolektif bangsa, meski dengan modal retorika politik, bukan metodologi historiografi.

    Tentu, menulis ulang sejarah bisa jadi langkah ilmiah, jika dilakukan dengan niat jujur dan metodologi yang ng sahih. Tapi kita juga semua tahu, ketika penulisan ulang sejarah justru dipimpin oleh aktor politik, bukan akademisi sejarah, maka waspada adalah sikap paling waras.

    Sejarah itu bukan dokumen mati yang dikurung di lemari arsip. la hidup, dan berdenyut dalam ingatan kolektif. Bayangkan, misalnya jika suatu hari ada arsip tua ditemukan di rumah penduduk desa, berisi catatan perjuangan petani melawan mafia tanah. Itu layak dimasukkan ke sejarah. Tapi bagaimana jika yang justru di tulis ulang adalah bagian yang menghapus jejak-jejak perlawanan dan luka?

    Marc Ferro dalam The Use and Abuse of History mengingatkan, sejarah sering dijadikan alat propaganda. Dirapikan, dikemas, lalu dijual sesuai kepentingan rezim. Indonesia tak asing dengan praktik semacam ini. Kita pernah hidup dalam narasi tunggal Orde Baru yang menyaring fakta demi menjaga citra.

    Editorial The Jakarta Post (2025) juga menyoroti bahaya wacana "sejarah baru" yang dikembangkan negara. Minimnya transparansi, penghilangan tragedi, dan penguatan narasi tunggal disebut sebagai ancaman serius bagi kebenaran sejarah.

    Dalam historiografi modern, sejarawan Leopold von Ranke menegaskan, sejarah harus ditulis as it actually happened, bukan as it should look good. Prinsip ini menuntut kejujuran dalam proses. Mulai dari pengumpulan sumber (heuristik), kritik terhadap sumber, sampai interpretasi yang objektif.Bukan sekadar pengumuman politik di media massa.

    Jadi pertanyaannya, apakah sejarah baru ini akan memberikan ruang pada suara-suara yang selama ini dibungkam? Buruh, petani, kaum minoritas, perempuan, atau malah mempertegas posisi elite dalam narasi yang sudah lama timpang?

    Kalau penulisan ulang sejarah hanya untuk memoles masa lalu yang otoriter, pelanggaran HAM, represi politik maka itu bukan koreksi, tapi kebohongan intelektual. Sejarah bukan kaca rias. la harus menjadi ruang refleksi, bahkan kalau itu menyakitkan.

    Dan di sinilah posisi mahasiswa diuji. Kita bukan sekedar pembaca catatan masa lalu, tapi penjaga agar ingatan itu tetap waras. Kampus bukan tempat tidur panjang, tapi medan dialektika. Karena kalau kita diam, sejarah akan terus ditulis oleh mereka yang ingin dikenang baik-baik, bukan oleh mereka bangsa ini belajar dari kesalahan. Tulisan ini bukan yang pertama sebagai pengingat, dan mungkin bukan yang terakhir sebagai penentu. Tapi ia hadir sebagai riak kecil di tengah gelombang besar sebuah anomali di antara hegemoni. Karena sejarah akan selalu ditulis entah dengan tinta merah milik rezim, atau tinta emas dari perlawanan sipil terhadap para penindas.


Penulis: M. Ranskhi Alkhalish

Editor: Suci Parhah Fauziah

Lebih baru Lebih lama