Kirab Banyu Sapar

Dokumentasi Lapangan

    Pada tanggal 19 Agustus 2025, HIMSPI menghadiri kajian rutin bulanan yang mengangkat tema Kirab Banyu Sapar. Tradisi dan Ritual Rebo Wekasan menjadi momentum masyarakat Cirebon untuk meningkatkan waspada dan siaga dalam segala bentuk musibah dan bala. Sudah sejak ratusan tahun lamanya, rebo wekasan diyakini sebagai hari rabu terakhir di bulan safar yang disakralkan. Para ulama ahli hikmah berpendapat, bahwa di hari rabu wekasan inilah Allah SWT menurunkan ribuan bala dan musibah di dunia. Oleh sebab itu, momentum rabu wekasan ini kemudian diperingati dengan beragam tradisi dan ritual yang dimaksudkan agar manusia terhindar dari bala dan musibah.
    Diantara tradisi dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Cirebon, khususnya masyarakat desa Kaliwadas dan Pasalakan adalah dengan melakukan doa dan Kirab Banyu Sapar. Kirab ini diinisiasi oleh Komunitas Latar Wingking dan melibatkan berbagai unsur masyarakat dari berbagai lapisan. Banyu Sapar sendiri merupakan percampuran dari 7 sumber mata air yang diambil dari 7 tempat petirtaan suci diantaranya: Petirtaan Sumur Masjid Kramat Pasalakan, Petirtaan Balong Baros Pasalakan, Petirtaan Balong Sumber, Petirtaan Balong Buyut Cikuya Tukmudal, Petirtaan Sumur Wanakerta Ki Gede Alang-alang Tukmudal, Petirtaan Sumur Kramat Keraton Kanoman dan Petirtaan Sumber Mata Air Paniis. Ketujuh tempat petirtaan suci itu melambangkan bilangan kramat dalam kosmologi dunia & alam semesta. Tujuh lapisan langit, tujuh lapisan bumi, tujuh hari dalam satu pekan, tujuh hari penciptaan alam semesta, tujuh tingkatan makomat dalam tasawuf, tujuh jenis windu Cirebon dan yang juga dikeramatkan, adalah Giri Nur Saptarengga, yakni tujuh pintu umbagan menuju pesarean Kanjeng Sunan Gunung Jati. Selain membawa Tujuh Air dari petirtaan suci, dalam prosesi Kirab Banyu Sapar juga diiringi dengan kue apem, salah satu makanan tradisional Cirebon yang lekat kaitannya dengan proses Islamisasi di Jawa khususnya di Cirebon. Tradisi apem sendiri selalu identik di bulan safar, dan riwayat hidup Syekh Siti Jenar.

   Secara tartib, iring-iringan ini di dahului dengan pembawa obor, Hadroh, Pangeran Cerbon Kesultanan Kanoman, pembawa payung, dupa, umbul umbul, kue apem 9 buah yang melambangkan wali songo, 7 air kendi yang melambangkan 7 sumber mata air, dan para rombongan lain yang terdiri dari rombongan pagawai Kelurahan Kaliwadas, Pegawai Kelurahan Pasalakan, Kaum Masjid Syekh Abdurrahman Pasalakan, rombongan kedinasan, BBWS Cimanuk Cisanggarung, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kebudayaan Kabupaten, Dinas Sosial, beragam komynitas dan Masyarakat umum lainnya. Kirab ini dimulai dari Masjid Kramat Syekh Abdurrahman menuju Latar Wingking Desa Kaliwadas. Sesampainya di Kaliwadas, akan dilakukan siraman air sebagai simbol ngirab atau matirtameda yang berasal dari tujuh petirtaan suci dan dilakukan doa bersama di Bulan Safar. 

Penulis: Raden M. Ikhsan Fauzi
Editor: Suci Parhah Fauziah


 

Lebih baru Lebih lama