Sastra Macapat Cirebon

Dokumentasi Lapangan

    Jirah pada tanggal 28 Oktober 2025, yang mengusung tema sastra macapat cirebon. Sastra Macapat Cirebon memiliki sejarah yang panjang dan kaya, mulai dari abad ke-15 hingga saat ini. Macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang memiliki aturan-aturan tertentu dalam hal bentuk, bahasa, dan penyajiannya. Pada masa Kerajaan Cirebon, macapat digunakan sebagai media untuk menyebarkan ajaran Islam dan nilai-nilai moral kepada masyarakat. Macapat Cirebon terus berkembang hingga saat ini, dengan berbagai perubahan dan penyesuaian. Pada masa Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta, macapat berkembang menjadi salah satu bentuk seni sastra yang populer di kalangan kerajaan. Saat ini, macapat masih dibawakan oleh para seniman dan pegiat seni sastra di berbagai daerah di Indonesia.

    Macapat Cirebon memiliki beberapa jenis, antara lain Dhandhanggula, Asmaradana, dan Sinom. Dhandhanggula adalah tembang yang memiliki 10 baris dengan jumlah suku kata tiap baris yang bervariasi. Asmaradana adalah tembang yang memiliki makna tentang cinta dan kasih sayang. Sinom adalah tembang yang memiliki makna tentang kebijaksanaan dan kearifan.

    Macapat Cirebon terus dilestarikan dan dikembangkan oleh para seniman dan pegiat seni sastra di Indonesia. Macapat juga diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Dengan demikian, macapat Cirebon tetap menjadi salah satu bentuk seni sastra yang penting dan berpengaruh dalam budaya Indonesia.

Penulis: Raden M. Ikhsan Fauzi
Editor: Suci Parhah Fauziah



 

Lebih baru Lebih lama