Dokumentasi Lapangan
Pada Hari Selasa malam rabu, tepatnya pada tanggal 15 April 2025, Himpunan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam menghadiri kajian rutin bulanan yang diadakan oleh Komunitas Latar Wingking yang bertempat di Latar Wingking, yang dipantik oleh salah satu sejarawan Cirebon yakni Kang Farihin Niskala, S.hum, dan dibarengi oleh salah satu budayawan Cirebon yakni Kang Ifull Azka Zulkifli. Tema yang angkat yaitu Peran dan Alih Fungsi Istana Gunung Sembung (Kompleks Gunung Jati) Dalam Sejarah Istana Gunung Sembung, yang kini menjadi bagian penting dari Kompleks Gunung Jati, pada awalnya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan markas utama Sunan Gunung Jati dalam menjalankan misi penyebaran Islam di wilayah Cirebon dan pesisir utara Jawa. Di tempat inilah aktivitas politik, pendidikan keagamaan, pertemuan dengan para ulama, serta berbagai ritual spiritual dilakukan, sehingga kawasan ini memiliki kedudukan simbolis yang kuat sebagai sumber legitimasi bagi para penguasa Cirebon. Setelah Sunan Gunung Jati wafat dan pusat pemerintahan dipindahkan ke keraton-keraton baru seperti Pakungwati, Kasepuhan, dan Kanoman, peran Gunung Sembung mengalami perubahan besar dari istana kediaman dan pusat kekuasaan menjadi kompleks makam keramat yang dihormati sebagai tempat peristirahatan salah satu Wali Songo. Seiring perkembangan zaman, kawasan ini semakin berkembang menjadi pusat ziarah, penyelenggara tradisi keagamaan seperti Muludan dan upacara adat lainnya, serta destinasi wisata religi yang ramai. Transformasi ini menjadikan Gunung Sembung tidak hanya bernilai spiritual dan historis, tetapi juga berperan dalam mendukung kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitar melalui aktivitas perdagangan, jasa perziarahan, dan pelestarian budaya lokal.
Penulis: raden M. Ikhsan Fauzi
Editor: Suci Parhah Fauziah
